Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kenapa Harga Crypto Naik Turun? Ini 7 Penyababnya

 Penyebab Harga Crypto Naik Turun - Seperti yang sudah kita ketahui, Crypto merupakan sebuah aset digital baru yang sangat populer belakangan ini. Kalau belum tahu, bisa baca-baca artikel di label: Crypto dulu ya, Sob.

Selain digunakan sebagai alat transaksi sebagaimana fungsinya, Crypto juga menjadi salah satu aset yang menjanjikan untuk investasi.

Dibanding dengan aset lainnya, aset Crypto nilanya lebih fluktuatif alias perubahan harganya cukup sering. Sekarang bisa murah, besok bisa mahal. Atau juga sebaliknya, sekarang mahal eh besoknya turun jadi murah.

Setiap akibat tentu ada sebabnya. Apa sih yang membuat harga Crypto Naik Turun?

Penyebab Harga Crypto Naik Turun

Setiap aset finansial pasti akan mengalami pergeseran nilai atau perubahan harga. Secara umum, hal ini disebabkan oleh permintaan dan penawaran. Akan tetapi, aset Crypto ini sedikit unik karena perubahan harganya cukup signifikan.

Berikut ini JagoanGadget.com akan membagikan informasi mengenai Penyabab Naik Turun Harga Crypto.

1. Kebijakan Moneter dan Tokenomics

Persediaan mungkin menjadi salah satu faktor atau penyebab paling berpengaruh terhadap naik turunnya harga Crypto. Di pasaran, tata kelola persediaan aset Crypto disebut sebagai Kebijakan Moneter. Sedangkan di kalangan investor Crypto disebut Tekonomics.

Setiap Protokol dan koin Crypto memiliki tata kelolanya sendiri untuk menentukan berapa jumlah aset yang beredar di pasaran. Tata kelola ini bisa diputuskan dengan cara yang demokratis, yakni bisa dengan melakukan pemungutan suara berdasarkan julah kepemilikian aset Crypto itu sendiri. Bisa juga dengan metode yang lebih terpusat, yang mana terdapat dewan khusus yang mengendalikan tata kelola persediaan Crypto.

"Membakar" aset (koin) yang beredar juga pernah dilakukan oleh Binance untuk mengendalikan jumlah aset yang beredar. Dengan cara ini, Binance mengurangi Jumlah Binance Coin (BNB) yang beredar menggunakan laba yang telah terkumpul. Hal ini disebut sebagai "Coin Burn".

Dengan "Terbakarnya" sejumlah BNB, otomatis koin yang beredar menjadi lebih sedikit. Pada saat itu, Binance menargetkan hingga 100 juta keping BNB dihilangkan. Sehingga dampaknya bisa terlihat seperti grafik di bawah.

Coin Burn Binance BNB

Pada Grafik tersebut, terlihat bahwa harga BNB naik hingga 600 USD per keping pada April 2021. Saat itu, Binance membakar kurang lebih 1.099.888 keping koin senilah 595,31 USD. Ini merupakan "pembakaran" koin terbesar yang pernah dilakukan Binance hingga sekarang.

2. Biaya Produksi

Lagi, sama seperti aset investasi kebanyakan terutama logam yang dihasilkan pertambangan, Crypto juga memerlukan biaya produksi (Crypto Mining).

Contohnya pada Bitcoin Mining, untuk bisa menghasilkan BTC dari mining alias menambang, dibutuhkan modal yang cukup besar. Dibutuhkan komponen komputer tertentu yang harganya tidak murah dan juga daya listrik yang cukup besar. Tanpa itu semua, proses mining tidak akan bisa memecahkan algoritma yang rumit untuk mendapat upah berupa Bitcoin.

Riset yang pernah dilakukan oleh Cambridge Universiti pada awal 2021, membuktikan bahwa rata penambang Crypto membutuhkan hingga 121,36 Terawatt per Hour danalam setahun, yang mana jumlah ini bahkan lebih besar dari penggunaan listrik di Argentina saat itu.

Saat itu, harga komponen yang semakin terbatas (karena banyak dibutuhkan penambang) menjadi semakin tinggi. Sehingga hal ini mempengaruhi kenaikan harga Crypto Bitcoin. Belum lagi jika terjadi perubahan tarif listrik yang tentu akan mempengaruhi harga BTC.

3. Permintaan terhadap Teknologi Blockchain

Kalau 2 penyebab sebelumnya lebih ke masalah penawaran, penyebab naik turun harga Crypto selanjutnya mengenai Permintaan.

Permintaan sebuah aset Crypto akan meningkat apabila banyak yang menggunakan teknologi Blockchain dari Crypto itu sendiri. Hal ini disebabkan karena biaya penggunaan Blockchain dibayarkan menggunakan aset Crypto dari Blockchain tersebut. Meningkatnya permitaan inilah yang bisa menjadi penyebab harga sebuah aset Crypto naik, begitupun sebaliknya.

Banyak alasan orang memilih menggunakan sebuah teknologi Blockchain, misalnya:

  • Skalabilitas yang lebih baik
  • Fitur-fitur tertentu yang tidak ditemukan pada Blockchain lain
  • Biaya transaksi yang rendah

4. Meningkatnya Pengguna Crypto

Dikarenakan stok atau ketersediaan dari aset Crypto terbatas, kenaikan harga bisa dikarenakan meningkatkan pengguna. Semakin banyak pengguna yang menggunakan Crypto maka akan semakin menipis ketersediaan Crypto, sehingga menyebabkan harganya menjadi naik.

Hal ini bisa saja terjadi secara signifikan jika ada adopsi massal penggunaan Crypto. Dalam artian sebuah Crypto menjadi bermanfaat di dunia nyata, menjadi sebuah alat pembayaran yang dibutuhkan misalnya.

Bitcoin menjadi salah satu bukti peningkatan harga Crypto disebabkan oleh adopsi massal oleh Investor Institusi sebagai instrument kekayaan. Harga Bitcoin pernah menyentuh angka 60.000 USD per keping di awal 2021. Ditambah lagi ada kabar bahwa beberapa negara berencana menggunakan BTC sebagai alat pembayaran yang sah.

Sedangkan itu, pola adopsi cryptocurrency oleh investor ritel membentuk kurva berupa lonceng, semacam yang diperlihatkan di foto berikut. Baru 150 juta orang di dunia yang menggenggam peninggalan kripto. Bila dibanding dengan jumlah populasi dunia yang di atas 6 miliyar jiwa, hingga dapat dibilang kalau adopsi cryptocurrency di dunia masih dalam sesi dini.

Penyebab Harga Crypto Naik Turun

Bell Shaped Curve Cryptocurrency

Baik investor ritel serta institusi mulai melirik nilai jangka panjang dari cryptocurrency. Peningkatan harga sebagian peninggalan kripto yang pesat di 2021 jadi fakta kalau derasnya permintaan dari investor institusi serta ritel kian terus tingkatkan permintaan serta harga kripto.

Di samping penawaran serta permintaan, keadaan makroekonomi global pula memiliki peranan kokoh dalam pengaruhi pergerakan harga peninggalan kripto. 

5. Inflasi Mata Uang atau Penurunan Nilai Mata Uang Fiat

Harga peninggalan kripto, paling utama koin yang mempunyai khasiat yang jelas, sepatutnya bertambah di tengah langkah bank sentral global yang terus mencetak duit serta mempraktikkan rezim suku bunga rendah.

Perihal ini dapat terjalin lantaran ciri pasokan duit fiat bertolak balik dengan cryptocurrency. Persediaan peninggalan kripto terbilang terbatas, sehingga warga sepatutnya bergeser ke instrumen ini apabila jumlah duit fiat yang tersebar terus menjadi banyak.

Berarti buat diingat kalau Bitcoin terbentuk buat menjawab pencetakan duit fiat secara besar- besaran, yang dikala itu dicoba oleh bank sentral di segala dunia buat mengatasi krisis keuangan global. Langkah ini mungkin hendak terus kesekian di tiap resesi ekonomi di mana pemangku kebijakan tidak memiliki opsi buat menstimulasi perkembangan ekonomi tidak hanya memangkas suku bunga acuan ataupun mencetak lebih banyak duit. 25% dari Dolar AS yang tersebar saat ini ini dicetak pada 2020 kemudian.

Di samping itu, owner peninggalan kripto pula saat ini berkesempatan buat mendulang cuan dari aktivitas menabung peninggalan kripto dengan mendapatkan imbal hasil yang lebih besar dari menabung di bank konvensional. Saat ini, perihal tersebut dapat terlaksana bersamaan maraknya pemakaian aplikasi keuangan terdesentralisasi( DeFi). Imbal hasil yang besar serta persediaan yang ketat membuat peninggalan kripto berguna selaku pelindung nilai kekayaan dari gerusan inflasi yang disebabkan pencetakan duit.

Di aplikasi Pluang, Sobat pula dapat mendulang cuan cuma dengan menabung Bitcoin serta Ethereum memakai fitur PluangCuan. Kalian dapat memperoleh imbal hasil sebesar 3, 5% per tahun bila menabung lebih dari 0, 001 ETH ataupun 0, 0005 Bitcoin. Ayo, kunjungi tautan berikut buat data lebih lanjut. 

6. Regulasi Pemerintah

Serangkaian regulasi pemerintah dapat pengaruhi permintaan ataupun penawaran dari peninggalan kripto. Keadaan ini dapat terjalin lantaran pemerintah memiliki wewenang buat mengendalikan, menggunakan pajak, ataupun apalagi melarang aktivitas cryptocurrency, yang umumnya hendak merendahkan harga peninggalan kripto.

Investor kripto Indonesia tidak cuma butuh mengerti soal regulasi kripto di Indonesia, tetapi pula mengamati gimana 2 negeri adikuasa, Cina serta AS, mengendalikan aktivitas kripto di negeri tiap- tiap.

• Cina

Pada Mei 2021, otoritas Cina menerbitkan peringatan menimpa trading serta pertambangan peninggalan kripto. Setelahnya, otoritas Cina dilaporkan mengadakan pertemuan dengan bank- bank besar sambil menegaskan kalau institusi perbankan di Cina tidak boleh ikut serta dalam transaksi cryptocurrency.

Gestur otoritas Cina tersebut membuat harga Bitcoin longsor dari titik rekornya di kisaran US$65. 000 jadi di dasar US$30. 000 per keping. Perilaku tersebut pula merendahkan tingkatan kapasitas pertambangan kripto di Cina mengingat negeri gorden bambu itu mengambil jatah 50% dari hash rate Bitcoin dunia.

• Amerika Serikat

Amerika Serikat mengesahkan aktivitas ubah mengubah peninggalan kripto di bursa kripto, tetapi bukan selaku perlengkapan ubah formal. Dewan legislatif AS sudah kesekian kali mau mengendalikan peninggalan kripto sebab takut kalau kedatangan mata duit ini bisa mengusik dominasi Dolar AS di kancah ekonomi global serta akibat peninggalan kripto apabila dipegang dalam jumlah yang besar oleh orang serta institusi.

Pemerintahan AS di dasar Joe Biden lagi memikirkan buat mengutip pajak dari aktivitas kripto buat membiayai proyek- proyek infrastruktur AS semacam yang dituangkan di dalam RUU Pendanaan Infrastruktur.

• Indonesia

Indonesia mengesahkan perdagangan peninggalan kripto pada September 2018, kala Departemen Perdagangan melaporkan kalau Bitcoin serta peninggalan kripto lain tercantum komoditas. Tubuh Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi( Bappebti), tubuh di dasar Departemen Perdagangan yang mengendalikan perdagangan komoditas dalam negeri, setelah itu mempersiapkan serangkaian peraturan buat mengendalikan kegiatan blockchain serta peninggalan kripto di Indonesia. 

7. Momentum

Terakhir, semacam pasar keuangan yang lain, harga peninggalan kripto didetetapkan oleh spekulasi. Tiap- tiap trader ritel, investor institusi, serta lembaga pengelola investasi global( hedge fund) mempunyai pemikiran berbeda menimpa keadaan pasar serta perbandingan ini dapat pengaruhi harga peninggalan kripto.

Pergerakan harga di pasar peninggalan kripto dapat sangat kilat serta lebar. Perihal ini terjalin sebab banyak trader yang menggunakan algoritma dalam ubah mengubah peninggalan kripto. Bila harga kripto menembus satu titik tertentu, hingga sistem algoritma hendak mengeksekusi aksi jual ataupun beli. Aksi ini berikutnya hendak jadi faktor bertindaknya trader lain di mana aksi mereka ini setelah itu pula hendak pengaruhi lagi pergerakan pelakon pasar yang lain.

Sebab pelakon pasar cenderung kesusahan buat memperhitungkan harga peninggalan kripto lewat aspek fundamental, atensi setelah itu ditunjukan oleh isu serta kabar yang menghebohkan ataupun seruan- seruan membeli ataupun menjual oleh pendukung peninggalan kripto. Misalnya, harga peninggalan kripto dapat jumpalitan kala influencer peninggalan kripto, semacam punggawa Tesla Elon Musk, mengunggah cuitan ataupun membuat meme tentang cryptocurrency di akun Twitter- nya. 

Kenapa Harga Aset Kripto Sangat Bergejolak?

Pada intinya, pasar Crypto digerakkan oleh narasi. Koin Crypto atau Mata Uang Crypto (Cryptocurrency) tidak menghasilkan imbal hasil seperti instrumen ekuitas yang memiliki data pendapatan dan laba. Nilai aset kripto tidak dapat diperkirakan melalui pendekatan pasar modal biasa seperti melalui kinerja keuangan perusahaan atau indikator fundamental tradisional semisal rasio harga saham terhadap pendapatan (price to earning ratio).

Yang terjadi adalah harga aset kripto sangat terpengaruh oleh suatu berita atau kejadian tertentu. Contohnya, naiknya harga suatu koin Crypto pada 2020 lalu yang sangat cepat yang dikarenakan cuitan Elon Musk di Twitter mengenai pendapatnya tentang aset Crypto.

Volume trading di bursa aset kripto tidak bisa diukur begitu saja. Sementara data ukuran on-chain tidak bisa menjelaskan kondisi pasar Crypto sebenarnya. Pasar Crypto terbentuk dari jaringan platform bursa dan penyedia yang bermacam-macam bukan dari satu bursa yang terpusat.

Sehingga, masing-masing platform bursa aset Crypto memiliki harga aset Crypto yang berbeda-beda satu sama lain. Jadi dengan kata lain, mata uang Crypto tidak memiliki satu harga tunggal. Berbeda dengan pasar modal konvensional, yang mana data harga dan volume sekuritas yang diperdagangkan jelas sesuai dengan aktivitas di bursa saham.

Investor juga mengalami kesulitan mengukur volume trading aset kripto karena data volume on-chain dari sebuah cryptocurrency tidak mencerminkan total data trading yang terjadi di seluruh platform bursa aset kripto.

Momentum dan volatilitas terjadi kala pasar merespons algoritma trading. Secara teori, harga cryptocurrency antar platform trading kripto tidak berbeda jauh satu sama lain akibat hadirnya perdagangan berbasis algoritma di dalamnya. Namun, pada kenyatannya, penggunaan algoritma untuk trading bisa membuat harga bergerak drastis.

Contohnya, penurunan harga sebuah aset kripto akan memicu aksi “jual” jika trader memasang aksi jual otomatis di level harga tersebut. Sayangnya, peristiwa itu juga akan dibaca pelaku pasar lain sebagai aksi jual, sehingga trader lainnya akan ikut latah dengan menjual aset kriptonya.

Akhir Kata

Nah, jadi sudah jelas kan Sobat apa saja Penyebab Harga Crypto Naik Turun? Sebenarnya, yang menjadi penyebab paling berpengaruh pada harga Crypto adalah permintaan dari pengguna. Karena persediaannya terbatas, semakin banyak penggunanya maka akan semakin langka dan membat harganya menjadi naik dan sebaliknya.

Tapi ada juga faktor lainnya yang membuat harga Crypto naik turun seperti yang sudah kita bahas panjang lebar di atas.